Seorang yang sudah saya anggap sebagai sahabat pernah menyampaikan bahwa "Membaca tanpa menulis itu ibarat makan tanpa buang air besar".Entah apa maksud dia berkata seperti itu, mungkin menyindir, untuk merendahkan, mungkin juga mendorong saya untuk buang air besar (baca: menulis) karena dia merasa saya memiliki potensi sebagai penulis besar (geer). Saya berusaha berpikiran positif dengan mengambil poin yang terakhir karena memang selama ini saya makan terus tapi tidak pernah buang air besar. Jangan dibayangkan bagaimana rasanya dan parahnya kondisi organ pencernaan saya. Hehe,
Sebenarnya, bukannya saya tidak pernah kebelet buang air besar, sering kebelet tapi nggak bisa keluar. Terlalu banyak kekhawatiran untuk buang air besar, mungkin lebih pada khawatir omongan orang kali ya, takut dikatain baulah, takut dikatakan jeleklah, bla bla bla banyak ngelesnya sampai bertahun-tahun bikin blog nggak ada isinya, kosong mlompong. Sembelit deh jadinya. Astaghfirullah, sembelit tahunan masih bisa hidup???
Alhamdulillah masih dikasih kesempatan untuk hidup, masih bisa benahi diri. Makanya kali ini saya nekat minum obat pencahar. Jangan tanyakan dosisnya, karena sayapun tak tahu. Nah lho???
Untuk hasilnya atau efek sampingnya kita lihat nanti, apakah sosok Khaizura Dinka akan posting lagi tulisannya di blog ini? Itu masih menjadi misteri. :D