Bismillah…
Apa jadinya jika rutinitas harian kita berjalan tidak beraturan, tak terencana, sedangkan tanggungjawab yang harus diselesaikan sudah mengantri dengan manisnya di depan mata? Tentunya kekacauan yang akan melanda, ujung-ujungnya pikiran ini pun menjadi tertekan, stress.
Manajemen. Bidang ilmu yang saya butuhkan saat ini. Peran saya sebagai seorang istri dan ibu dua balita saat ini tidak bisa lagi menjadikan saya bersikap “semau gue” seperti ketika masih lajang. Apalagi keputusan saya untuk menjadi Ibu Rumah Tangga tanpa ART, sekaligus Mompreneur menuntut beraneka ragam aktivitas yang semakin hari semakin menantang. Membayangkannya saja tanpa perencanaan dan pengelolaan yang baik seperti mengutak-atik “benang ruwet”. Bagaimana bisa menghasilkan karya rajutan yang berkualitas bila benangnya saja masih kusut? Hfiufh.
Musuh terbesar dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya adalah kemalasan. Bertemu dengan seseorang yang memiliki disiplin yang tinggi dan manajemen hidup yang baik tentu saja dapat menginspirasi. Beruntung saya dipertemukan dengan suami yang memang tipikal perencana dan disiplin. Beliau sedikit demi sedikit mengubah mindset saya yang tadinya cenderung menyepelekan banyak hal dan spontan dalam tindakan menjadi lebih terarah. Saya meminta beliau untuk terus mengingatkan saya dan mengkomunikasikan kesulitan-kesulitan yang saya hadapi dalam menjalankan rutinitas harian. Berikut langkah-langkah yang coba saya lakukan dalam menekuni bidang ilmu yang satu ini:
1. Merubah kebiasaan diri (habits), contoh yang paling dasar dan utama adalah membiasakan sholat lima waktu di awal waktu,
2. Banyak membaca buku yang berkaitan dengan manajemen keluarga (waktu, ekonomi, parenting, bisnis, dll),
3. Bertemu dan berdiskusi dengan orang-orang yang memiliki kapasitas keilmuan manajemen yang baik.
Saya menyadari bahwa saya membutuhkan orang lain sebagai guru dalam menekuni bidang ilmu ini. Sebagai salah satu guru yang paling mengerti saya, suami saya seringkali malah saya ajak berdebat karena ego yang dibalut emosi saya tak jarang menguasai ketika mendapat kritikan yang tajam dari beliau. Ketika berdiskusi dengan guru-guru lain pun, keinginan untuk mendebat juga kerap muncul, meskipun akhirnya hanya menjadi perdebatan batin. Namun orang yang tau saya pasti bisa membacanya dari ekspresi yang tampak. Ego masih merajai. Ternyata saya masih belum memiliki adab :(
Adab mendahului ilmu, ilmu mendahului amal…
Mempelajari dan menerapkan adab dalam menuntut ilmu menyadarkan saya bahwa ego itu harus dipendam dalam-dalam, terutama bila berhadapan dengan guru kita. Tidak lupa pula menyingkirkan jauh-jauh kemalasan dalam menuntut ilmu.
Ya Allah mudahkanlah hamba yang lemah ini dalam menuntut ilmuMu dan mengamalkannya dengan baik. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar